Limantinasihaloho’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Perempuan Simalungun dalam Perubahan Budaya

leave a comment »

Parapat, 05 April 2008

Limantina Sihaloho

 

Antara dua generasi

Pada waktu saya berusia enam tahun, ibu saya sudah mulai membujuk saya untuk tidak sekolah tapi ke ladang saja menenaminya bekerja.   Ibu saya seorang petani yang sehari-harinya bekerja di ladang. Di samping membujuk, ibu saya juga mengiming-imingi saya dengan kalung emas. Saya masih ingat betul kalimat yang berkaitan dengan emas ini dari ibu saya, “Sung pala marsikkolah ho; hu juma malah hita. Akkin, tuhor hita pe rante-masmu.” (Nggak usahlah kau sekolah; ke ladang aja kita. Nanti, kita beli pun kalung-emasmu.”

Pada usia enam tahun, saya tahu bahwa emas itu perhiasan yang berharga tetapi saya tidak begitu tertarik untuk memilikinya. Saya kira anak usia enam tahun memang tidak begitu tertarik dengan barang-barang seperti itu sebab pikiran kanak-kanaknya belum cukup mampu untuk mencerna apa hubungan antara sekolah, ladang dan emas.

Bapak saya adalah kebalikan dari ibu saya; ia menyuruh kami sekolah bukan dengan terutama perkataan-perkataan tetapi pergi membawa kami mendaftar ke sekolah. Sejak SD sampai SMA, saya mengingat bahwa bapak saya yang hampir selalu terjun mengurusi berbagai keperluan kami menyangkut surat-surat dan sejenisnya yang berkaitan dengan sekolah. Kalau ada keluarga yang datang ke rumah dan ada pesta kecil, maka kami tidak diperbolehkan bapak untuk tidak pergi sekolah. Ibu saya adalah sebaliknya: kalau ada keluarga yang datang atau pekerjaan di ladang sedang merepotkan seperti panen, ia tidak segan-segan memaksa agar kami tidak pergi ke sekolah tapi ke ladang membantunya. Sebagai anak-anak, tentu kami, terutama saya, akan memilih pergi ke sekolah daripada ke ladang di pagi hari. Walaupun sekolah bukan tempat yang begitu menyenangkan, paling tidak saya bisa terbebas dari kewajiban bekerja di ladang sejak pagi sampai sore.

Beranjak dewasa, saya mulai mengerti mengapa ibu saya membujuk-bujuk saya untuk tidak pergi ke sekolah ketika saya masih kecil. Waktu itu ibu saya sering berkata, “Au pe lang adong marsikkola ibaen oppungmu onde.” (Saya juga tidak disekolahkan oleh oppungmu).

Jadi, pengalaman ibu saya telah menjadi pembenaran baginya untuk memperlakukan saya sama: tidak usah pergi ke sekolah.

Pada waktu-waktu tertentu, ibu saya mengatakan bahwa orang tuanya mengirim anak-anak laki-laki pergi bersekolah sampai ke Pematang Siantar. Sementara itu, anak-anak perempuan kecuali adiknya yang paling kecil yang sempat mengecap pendidikan hingga sekolah menengah atas, tinggal di kampung membantu orang tua. Ibu saya pada pagi hari marharoan  (bekerja dalam kelompok dengan cara rotasi di mana masing-masing anggota mendapat giliran yang sama. Marharoan setidaknya memerlukan dua orang anggota). Pada malam hari manduda (menumbuk padi di lesung) untuk makanan keluarga dan juga saudara-saudara laki-lakinya yang sedang sekolah di Pematang Siantar.

Menurut cerita ibu saya, ia memilih menikah dengan bapak saya beberapa tahun setelah ia tidak lagi sekolah. Ia berhenti sekolah setelah kelas III SR (Sekolah Rakyat). Di Urung Panei hanya ada sekolah hingga jenjang itu. Kalau mau melanjut, harus keluar dari Urung Panei seperti Pematang Siantar. Alasan ibu saya memilih menikah cepat adalah karena ia merasa begitu lelah setiap hari harus ke ladang dan pada malam hari masih harus menumbuk padi untuk makanan keluarga dan belanja saudara-saudara laki-lakinya yang sedang bersekolah. Belum lama ini, salah seorang adik perempuan ibu saya mengatakan bahwa pada waktu itu, seingatnya, orang tua  mereka yang laki-laki, bapak mereka mengatakan kepada ibu saya, “Botomu ma lobei melanjut sikolah, ho holi menyusul.” (Botomulah dulu melanjutkan sekolah, kau nanti menyusul).

Kenyataannya ibu saya menikah pada usia yang bagi manusia zaman sekarang tergolong muda: sekitar 15 tahun. Ia melahirkan 9 anak; anak nomor dua meninggal karena tercedak oleh makanan yang katanya adalah pisang.

Bapak saya berasal dari Samosir, merantau ke Simalungun dan berjumpa lalu menikah dengan ibu saya. Ketiga saudara laki-laki bapak saya sekolah; ia sendiri tidak mau sekolah dan ketika sudah menjadi orang tua dan punya anak, berulang-ulang ia mengatakan betapa menyesal ia dulu tidak mau sekolah. Penyesalan itu merupakan satu penyebab utama mengapa ia tidak mau melihat kami tidak sekolah karena baginya sekolah itu merupakan satu jaminan bagi kehidupan yang lebih baik. Ia melihat contoh bagimana ketiga saudara laki-lakinya yang sekolah mempunyai kehidupan dan pekerjaan yang lebih baik daripadanya.

Jadi, pada zaman ibu dan bapak saya masih kanak-kanak, yang terutama mendapat kesempatan untuk sekolah adalah anak laki-laki. Yang menarik sebagai sebuah indikator perubahan yang memang jelas berlangsung adalah adik perempuan ibu saya yang paling kecil bisa sekolah sampai sekolah menengah atas demikian juga adik perempuan bapak saya yang paling kecil. Perbedaan usia sekitar lima tahun saja lebih muda daripada ibu saya pada masa itu sudah dapat melahirkan suatu perbedaan dalam memperoleh kesempatan untuk sekolah karena pikiran orang tua pada masa itu juga menjadi lebih terbuka.

 

Mengapa perempuan tidak memperoleh hak yang sama dengan laki-laki?

Mengapa ibu saya tidak memperoleh hak yang sama dengan saudara-saudara laki-lakinya khususnya dalam hal akses dan kesempatan untuk sekolah? Mengapa orang tua pada waktu itu berpikir bahwa anak laki-laki lebih penting sekolah jika dibandingkan dengan anak perempuan? Tentu ada alasan-alasan mengapa orang tua pada masa itu berpikiran seperti itu.

Penting kita perhatikan dengan seksama bahwa yang justru sering mengatakan kepada anak-anak perempuan agar tidak usah sekolah atau agar rela mendahulukan kepentingan anak laki-laki daripada perempuan adalah perempuan sendiri. Ibu saya misalnya selalu mengatakan bahwa yang meminta dia untuk tidak sekolah adalah ibunya. Saya sendiri juga mengalami hal yang sama, ibu saya yang selalu meminta saya untuk tidak sekolah ketika saya masih kanak-kanak bahkan hingga remaja. Bapak saya tidak pernah.

Jawaban yang umum dan menjadi baku terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas berkisar sebagai berikut: Dalam adat istiadat Batak termasuk adat-istiadat Simalungun, perempuan dan laki-laki diperlakukan secara berbeda. Dari kaca mata para aktivis pejuang hak-hak perempuan, maka kondisi perempuan Batak sungguh mengenaskan. Perempuan seperti barang yang dapat diperjual-belikan.  Perempuan tidak punya kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam kancah adat. Tidak ada perempuan yang menjadi raja-parhata dalam pesta-pesta adat Batak. Perempuan biasanya hanya memberikan wejangan-wejangan sebelum member ulos.

Sikap dan tindakan para orang tua zaman ketika ibu saya yang masih kanak-kanak yang mendahulukan anak-anak laki-laki untuk sekolah dan kepentingan-kepentingan lainnya yang lebih menguntungkan laki-laki  bersumber dari pola pikir mereka. Dari mana pola pikir ini berasal? Dari adat-istiadat yang umum berlaku yang sudah berlangsung dari generasi ke generasi. Anak mencontoh orang tua yang juga mencontoh orang tuanya. Inilah yang terjadi pada saya, ibu saya dan ibunya ibu saya.

Pendidikan bagi perempuan merupakan salah satu cara efektif memutuskan  rantai yang membelenggunya. Generasi perempuan yang lahir setelah kemerdekaan (pasca 1945), memiliki akses terhadap pendidikan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya. Dalam dua dekada belakangan ini, jumlah perempuan yang pergi ke sekolah dari tingkat SD sampai perguruan tinggi sudah berimbang bahkan ada kecenderungan jumlah perempuan bisa lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki. Ketika perempuan  dan laki-laki memperoleh akses dan kesempatan yang sama termasuk dalam bidang pendidikan, maka jelas bahwa kemampuan perempuan sama baiknya atau bahkan tidak jarang jauh lebih baik daripada laki-laki. Perempuan, sebab sudah biasa mengemban tanggung jawab tertentu sejak kanak-kanak seperti membersihkan rumah, pekarangan, cuci-piring, masak, menjaga adik…, ketika besar mereka lebih mampu dan lebih berdaya tahan menghadapi berbagai tantangan hidup yang muncul. Para perempuan Batak misalnya secara umum dikenal sebagai perempuan-perempuan tangguh.

Para missionaris membawa agama Kristen ke Tanah Batak; Pdt. August Theis menjadi missionaris paling penting di Simalungun. Belum ada kajian dan penelitian yang mendalam berkaitan dengan peran Henriette Banner (istri  August Theis yang pertama, meninggal di Raya pada tahun 1909) dan Marie Sophia Langemann (menikah dengan August Theis tahun 1911) dalam pekerjaan penginjilan di Simalungun. Yang selalu ditonjolkan adalah pekerjaan August Theis.

Para istri missionaris tentu melakukan banyak pekerjaan-pekerjaan penting baik dalam keluarga, gereja dan masyarakat tetapi kita kesulitan untuk mengetahui hal itu kalau hanya bergantung pada dokumentasi-dokumentasi yang ada apalagi dalam bentuk buku. Jangankan tentang pekerjaan para perempuan zaman itu yang masih berada di awal abad ke-20, tentang pekerjaan para missionaris laki-laki saja pun sedikit bahan yang dapat kita cari.

Eropa dari mana para misionaris itu berasal juga tidak terlepas dari persoalan-persoalan yang berkaitan dengan ketidakadilan termasuk ketidakadilan terhadap perempuan. Teologi Kristen secara umum juga telah lama didominasi oleh laki-laki yang lebih menonjolkan dan mengutamakan kepentingan laki-laki. Di dalam Alkitab ada tokoh-tokoh perempuan yang hebat baik  dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru tetapi kurang bahkan sering tidak mendapat ruang dalam teologi termasuk dalam kotbah-kotbah di gereja.

Secara umum dalam gereja bahkan di GKPS praktek yang sama masih terjadi walau pelan tapi pasti perubahan sedang terjadi. Kalau kita jujur, siapa sebenarnya yang paling banyak bekerja dan berperan di GKPS? Kalau kita perhatikan setiap minggu dalam ibadah, siapa yang lebih banyak mengisi bangku-bangku yang ada dalam gereja?  Mungkin karena sudah biasa, kita kadang abai menghargai perempuan khususnya di lingkup gereja. Program-program di gereja kita sulit berjalan tanpa kehadiran dan peran perempuan.

Sejak awal kekristenan, perempuan memiliki peran penting dan sentral; sampai sekarang juga begitu. Bagaimana gereja kita bisa berlangsung tanpa kehadiran dan peran perempuan? Ruang gerak perempuan secara umum dibatasi oleh adat-istiadat termasuk juga agama yang dikembangkan oleh pola pikir dan kepentingan terutama laki-laki.

Sebelum kemerdekaan, terutama pada masa Simalungun masih berada dalam sistem kerajaan-kerajaan kecil, raja-raja Simalungun biasa melakukan poligami antara lain demi kepentingan politis dan prestise sosial. Istri pertama raja-raja di Simalungun yang biasa disebut sebagai puang bolon biasanya sudah tertentu; pernikahan lebih merupakan pernikahan politis demi kepentingan koalisi dan keamanan territorial. Lalu raja boleh menikahi perempuan-perempuan, biasanya yang muda, sebanyak yang mereka mau. Jadi hampir sama saja dengan keadaan di tempat-tempat lain.

Agama Kristen yang datang ke Simalungun mengangkat harkat dan martabat perempuan sebab kekristenan menolak poligami. Perjuangan perempuan Simalungun bukan berarti selesai sebab masih harus berhadapan dengan praktek-praktek adat yang dianggap sakral dan tidak boleh dilanggar ketentuan-ketentuannya.

 

Keluarga sebagai fondasi peradaban

Adat-istiadat tidak statis. Salah satu cara mengurangi cengkraman adat-istiadat yang tidak berpihak dan tidak adil bagi perempuan adalah melalui pendidikan dan proses ini terus berlangsung sampai sekarang. Cara saya memandang adat-istiadat Batak sudah sangat berbeda dengan cara ibu saya yang hanya selisih satu generasi. Bagi saya adat-istiadat itu penting jika saya bisa menelusur sampai ke intinya; apa saja fungsi positif adat-istiadat Batak bagi saya dan generasi saya.

Perempuan Simalungun yang setiap hari biasa bekerja keras dan tekun itu mesti mampu dan pasti  bisa menciptakan perubahan ke arah yang lebih baik di dalam keluarga, gereja maupun masyarakat. Kebudayaan dalam pandangan saya adalah ketika manusia baik sebagai individu maupun kelompok seperti kaum Inang-GKPS belajar dan mampu melahirkan perubahan-perubahan yang dinamis. Sejatinya, tugas sehari-hari para perempuan termasuk dalam rumah tangga telah merupakan satu fondasi sangat penting dalam peradaban manusia. Perempuan perlu menyadari hal ini bukan untuk sombong tetapi untuk tahu bahwa perempuan bisa melakukan hal-hal yang juga hebat di luar tugas rutin sehari-hari itu kalau berlatih mengaktifkan otak dan hatinya secara terus-menerus.  

Kita dapat mengurangi bahkan menghapuskan kekerasan terhadap perempuan baik sebagai individu maupun kelompok. Pendidikan merupakan salah satu kunci. Pendidikan yang saya maksud di sini bukanlah sekedar seperti pendidikan yang umum terjadi belakangan ini yang terutama hanya mementingkan sisi kognitif dan miskin refleksi; pendidikan belakangan ini laksana manusia yang tak mimiliki batin, seperti boneka yang bisa berjalan pakai baterei. Banyak anak-anak muda sekarang ini berkembang tidak ubahnya seperti boneka yang bisa bicara, berjalan karena ada baterei. Gempuran instanisasi baik berupa makananan, alat-alat dan program televisi menggiring manusia cenderung dan potensial a-rasa, tidak berperasaan dan tidak punya mekanisme berefleksi yang merupakan modal dasar untuk hidup sebagai manusia.

Perempuan GKPS, baik kaum Inang maupun remaja-pemudi, dalam konteks perubahan zaman yang pesat ini perlu membangun kerja-budaya yang jelas sebab ini akan sangat berguna mengurangi bahkan menghapuskan segala jenis tindak kekerasan terhadap perempuan. Sejarah telah mengajarkan kita bahwa kemerdekaan itu tidak gratis; tidak juga merupakan pemberian cuma-cuma. Baik negara maupun lembaga-lembaga keagamaan dalam beberapa dekade belakangan ini memang telah berjuang untuk membela hak-hak perempuan. Kita bisa melihat hasilnya.

Perempuan GKPS sebaiknya mengembangkan potensi-potensi yang masih tidur dalam diri mereka baik sebagai individu maupun kelompok. Masih banyak keluarga-keluarga yang merupakan anggota GKPS yang miskin lahir-batin; banyak orang tua di kampung-kampung di mana terdapat mayoritas warga GKPS yang tidak mampu menyekolahkan anak-anak mereka. Yang lebih mengenaskan adalah banyak sarjana dari Simalungun seperti sarjana Indonesia kebanyakan; punya ijazah tapi tidak punya keterampilan. Mau cari kerja susahnya setengah mati; mau pulang ke kampung bertani, malu dan gengsinya pun setengah mati.

Simalungun sekarang ini berada dalam krisis termasuk krisis budaya; ia lemah dalam mencipta dan menemukan. Generasi muda yang sekolah sampai perguruan tingga miskin sebab yang mereka harapkan adalah bekerja di kantor, pegang pulpen atau computer dan tanda tangan. Bagi kebanyakan orang Batak, pekerjaan yang dianggap menyenangkan bagi kaum terdidiknya adalah ngantor. Di Indonesia memang rata-rata begitu produk dunia pendidikannya. Jadi budaya yang berkembang di Indonesia termasuk di Simalungun adalah budaya-ngantor, ya begitu-begitu saja.

Saya perhatikan, secara umum para perempuan Simalungun di GKPS yang berpendidikan  pintar berhias dan berpenampilan menarik. Lebih bagus lagi kalau para perempuan Simalungun juga pintar berorganisasi dan mengerjakan program-program  berguna terutama bagi orang-orang yang kurang dan tidak beruntung di kampung-kampung sana sebab itulah salah satu cirri khas kekristenan: mengubah masyarakat menjadi lebih bermartabat. Ini juga yang merupakan inti kebudayaan, membuat manusia berbudaya, berbudi dan berdaya.    

Perempuan memiliki kepentingan yang sangat besar terhadap pendidikan kalau mau melihat perempuan bebas dari berbagai tindak kekerasan baik yang terjadi dalam keluarga maupun masyarakat dan negara. Perempuan bisa menyumbangkan potensi dan kemampuan yang feminin, yang lembut sekaligus kuat yang sudah tergerus dalam dunia pendidikan kita.

Setiap perempuan GKPS bisa menjadi pendidik bagi anak-anak mereka sejak dini di dalam rumah dan masyarakat. Kaum Inang GKPS terutama yang hadir dalam rapat pengurus lengkap di Parapat ini penting untuk memdalami dan melahirkan konsep-konsep pendidikan  keluarga yang adil, manusiawi dan bertenaga. Begitu banyak penelitian yang telah membuktikan bagaimana pentingnya pendidikan pada masa kanak-kanak bagi setiap manusia. Pendidikan dalam keluarga tidak tergantikan oleh pendidikan sekolah-formal. Pendidikan dalam keluarga adalah fondasi yang paling dasar bagi pembentukan karakter setiap anak. Kalau pendidikan dalam keluarga gagal, maka pendidikan selanjutnya bisa gagal. Menyandang gelar sarjana atau bahkan professor tidak merupakan jaminan bahwa seseorang itu terdidik dan berkarakter. Yang menjadi salah satu persoalan penting masyarakat kita pada masa ini adalah banyaknya manusia yang tidak berkarakter. Kalau setiap ibu bisa menjadi pendidik dan guru bagi anak-anak mereka di rumah sejak anak-anak itu masih bayi terutama dalam hal pembentukan karakter, saya optimis bahwa anak-anak ini ketika berkembang menjadi remaja, dewasa bahkan orang tua tidak akan melakukan tindak kekerasan terhadap siapapun.

Kaum Inang di GKPS sungguh penting mempersiapkan dan menjalankan program-program pendidikan terutama yang berbasis keluarga. Kalau keluarga menjadi rumah di mana anggota-anggotanya dapat merasa aman, betah sekaligus merdeka, maka anak-anak yang keluar dari keluarga-keluarga yang demikian itu sungguh bisa menjadi garam dan terang bagi dunia.

Kotbah dan penyuluhan saja tidak cukup. Perlu ada tindakan-tindakan kongkrit yang jelas terarah dan dapat dievaluasi hasil-hasilnya. Menjadi Kristen berarti menjadi peka terhadap sesama tidak hanya dalam kotbah/perkataan/penyuluhan tetapi juga dalam tindakan-tindakan nyata; inilah juga inti kebudayaan: menggerakkan manusia menjadi berbudi dan berdaya. Orang yang berbudi dan berdaya tidak akan melakukan kekerasan.

Perempuan GKPS juga berhak dan wajib menumbuhkembangkan teologi GKPS yang berpihak pada perempuan sebagai fondasi dan spirit untuk menjalankan dan mewujudkan program-program yang pro perdamaian dan keadilan. Damai hanya bisa berwujud kalau kita semua bertindak adil baik di rumah, gereja dan masyarakat.  

Limantina Sihaloho,  Litbang GKPS

Advertisements

Written by limantinasihaloho

May 26, 2008 at 9:18 am

Posted in Uncategorized

Tagged with